Wabah Kolera, Zimbabwe Larang Warga Berkumpul di Ruang Publik

Jakarta, – Kolera tengah mewabah di Zimbabwe. Hal itu menyebabkan otoritas setempat melarang warga untuk berkumpul di sejumlah ruang publik untuk mengatasi penyebaran wabah kolera.

“Pemerintah telah mendeklarasikan situasi darurat wabah kolera. Kepolisian di Harare berusaha untuk melindungi warga dari risiko Kolera,” ujar juru bicara kepolisian, Charity Charamba, Rabu (12/9).

Pemerintah Zimbabwe melaporkan sebanyak 21 warga meninggal akibat kolera dalam sepekan terakhir. Wabah tersebut pertama kali ditemukan di wilayah Glen View, yang berada di luar ibu kota Harare.

“Kami menyatakan keadaan darurat untuk Harare,” ujar Menteri Kesehatan Zimbabwe, Obediah Moyo, Selasa (11/9), menukil CNN. Kementerian Kesehatan Zimbabwe sendiri telah mencatat sekitar 3 ribu kasus kolera menjangkit di negaranya.

Buruknya sanitasi dan sistem pembuangan limbah yang menyebabkan air terkontaminasi disalahkan dalam situasi darurat ini.

Kolera adalah penyakit diare akut yang membunuh ribuan orang di seluruh dunia setiap tahun. Pada tahun 2008, lebih dari 4 ribu orang tewas dalam salah satu wabah kolera terburuk yang menyerang Zimbabwe.

Kolera disebabkan oleh konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Jika tak ditangani dengan baik, kolera dapat membunuh penderitanya dalam beberapa jam saja.

Kolera dapat dicegah

Kolera adalah penyakit yang mudah diobati dan bahkan dapat dicegah dengan adanya akses air minum dan sanitasi yang baik.

Amnesty International mengatakan bahwa wabah kolera yang terjadi merupakan konsekuensi dari kegagalan Zimbabwe mengelola infrastruktur dasarnya, seperti kebersihan air dan sanitasi.

“Mengerikan bahwa pada 2018 banyak orang masih sekarang karena penyakit yang dapat dicegah seperti itu,” ujar Direktur Eksekutif Amnesty untuk Zimbabwe, Jessia Pwiti, menukil The Guardian.

Bulan Agustus lalu, 47 negara Afrika berkomitmen untuk mengakhiri wabah kolera pada tahun 2030 dalam Komite Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika. Pertemuan itu menargetkan kematian akibat kolera pada 2030 berkurang hingga 90 persen.

“Kolera adalah simbol ketidakadilan. Ini adalah penyakit kuno yang telah dihilangkan di banyak bagian dunia. Padahal, setiap kematian akibat kolera dapat dicegah,” ujar Direktur Regional WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti.

Pada tahun 2017 lalu, WHO mencatat lebih dari 150 ribu kasus kolera dilaporkan di 17 negara di Afrika.

Leave a Comment