‘Segera ke RS’, Penanganan Pertama pada Stroke

Jakarta, – Stroke masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia, termasuk Indonesia. Padahal, penyakit akibat gangguan suplai darah ke otak ini dapat dideteksi dini dan ditangani dengan cepat melalui ‘Segera ke RS’. Terlambat sedikit saja, kerusakan otak tak bisa dikembalikan dan berakibat lumpuh.

Ahli kesehatan bidang neurologi, dr Mursyid Bustami menjelaskan, ‘Segera ke RS’ merupakan salah satu metode deteksi dini pada penderita stroke dengan mengenali perubahan yang terjadi pada seseorang.

“Kalau di Amerika Serikat ada namanya ‘FAST’, kalau di Indonesia dimodifikasi menjadi ‘Segera ke RS’,” kata Mursyid yang ditemui usai makan malam Asia Pasific Stroke Conference di Jakarta, akhir pekan lalu.

Deteksi dini melalui ‘Segera ke RS’ merupakan akronim dari beberapa perubahan gejala yakni SEnyum, GErak, bicaRA, KEbas, Rabun, dan Sakit kepala.

Mursyid menyebut, perubahan pada senyum yang terlihat miring, gerak yang tidak lurus, dan bicara yang cadel atau tidak lancar merupakan gejala yang muncul akibat stroke. Selain itu, rasa kebas yang muncul di badan, mata mulai rabun, dan sering sakit kepala juga termasuk ke dalam indikator penyakit stroke.

“Jika muncul tanda-tanda itu, maka harus segera ke rumah sakit untuk diambil tindakan. Waktu yang tersedia pada serangan tiba-tiba pun tak banyak, yakni 4,5 jam. Ini golden period,” tutur Mursyid yang merupakan Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional ini.

Waktu selama 4,5 jam tersebut merupakan periode untuk menyelamatkan pasien dari kelumpuhan total setelah serangan stroke mendadak yang membuat penderita lumpuh dan tak sadarkan diri.

Jika waktu selama 4,5 jam itu diabaikan, stroke dapat menyebabkan kelumpuhan dan kerusakan otak yang tak dapat dikembalikan lagi. Alhasil, tak ada cara lain yang mesti dilakukan selain segera membawa pasien ke rumah sakit.

“Saat stroke datang, penanganannya hanya ke RS. Tidak ada harus tusuk jari dengan jarum agar keluar darah. Ini mitos. Yang rusak di otak, bukan di jari, kok,” ucap Mursyid.

Saat pasien dibawa ke rumah sakit, kata Mursyid, penanganan gawat darurat bakal bertindak cepat. Prosedur kesehatan dunia menargetkan penanganan hingga obat masuk ke dalam tubuh pasien rampung dalam waktu maksimal satu jam.

Dokter bakal memasukkan obat penghancur sumbatan agar peredaran darah bisa kembali lancar dan dapat menyuplai otak.

Data dari World Stroke Organization pada 2017 menyebutkan sebanyak 17 juta orang menderita stroke dan menyebabkan 6,5 juta kematian di dunia.

Kehadiran stroke sendiri sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari dan menjaga faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, merokok, kolesterol, kelebihan berat badan, kurang olahraga, dan stres.

Leave a Comment