Satu dari Tiga Orang Dewasa di Indonesia Menderita Hipertensi

Jakarta, – Hipertensi atau kondisi tekanan darah tinggi masih menggerogoti masyarakat Indonesia. Survei pengukuran darah terbaru bahkan menunjukkan satu dari tiga orang dewasa di Indonesia menderita tekanan darah tinggi. Kondisi tekanan darah tinggi ini mengancam lantaran dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, ginjal, dan lainnya.

Survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) ini mengumpulkan data dari lebih 72.000 orang di 34 provinsi di Indonesia. Data pengukuran tekanan darah ini dilakukan saat peringatan bulan hipertensi atau May Measurement Month pada Mei 2017.

“Hasil ini bukan angka prevalensi, tapi real world data atau data apa adanya karena menggunakan non-randomized sampling di pusat keramaian,” kata Ketua Panitia May Measurement Month 2017 Bambang Widyantoro saat mengungkap data ke media di konferensi pers hipertensi bersama Omron di Jakarta, belum lama ini.

Survei itu menyebutkan bahwa satu dari tiga orang partisipan mengalami hipertensi dengan tekanan darah 130/80 mmHg atau lebih. Hasil itu, dikatakan Bambang, hampir sama dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang menyebut angka prevalensi sebesar 25-31 persen.

Lebih lanjut, sebanyak satu dari 10 orang dengan tekanan darah tinggi itu tak menyadari hipertensi yang dialaminya.

Dari penderita hipertensi itu, satu dari enam orang dewasa telah menjalani pengobatan. Namun, satu dari dua di antaranya masih belum memiliki tekanan darah yang terkontrol dengan baik.

Temuan menarik lainnya, sebanyak 17 persen peserta survei tak mengukur tekanan darah selama satu tahun terakhir. Sebanyak satu dari seribu orang juga ditemukan belum pernah mengukur tekanan darah sekalipun.

Hal penting lainnya yang ditemukan adalah sebanyak 7,7 persen penderita hipertensi pernah mengalami stroke, 15,7 persen menderita jantung koroner, 16,2 persen menderita diabetes, dan 19 persen masih menjadi perokok aktif.

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa hipertensi terbukti meningkatkan risiko stroke 11 kali lebih tinggi, risiko jantung koroner delapan kali lebih tinggi, dan risiko diabetes 4,5 kali lebih tinggi.

Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan tekanan darah tertinggi.

“Bahwa ternyata hipertensi tidak terjadi di kota saja, tapi juga pedesaan,” kata Bambang.

Dari hasil analisis data survei, Bambang menyebut adanya korelasi antara tingkat pendidikan dengan kondisi tekanan darah. Semakin baik tingkat pendidikan, semakin rendah tekanan darah.

“Asumsi kami ini disebabkan oleh semakin tinggi pendidikan, orang semakin sadar dengan kesehatan dan gaya hidup sehat,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Harapan Kita ini.

Pengukuran tekanan darah ini dilakukan oleh relawan di seluruh Indonesia menggunakan alat otomatis yang sudah tervalidasi. Para peserta juga diminta untuk rileks dan tidak boleh merokok 30 menit sebelum pengukuran. Rata-rata partisipan berusia 41 tahun dengan paling muda berusia 18 tahun.

Pengukuran tekanan darah ini dilakukan selama tiga kali dengan selang satu menit demi keakuratan data. Pasalnya, pengukuran pertama sering kali berbeda jauh disebabkan oleh faktor ketegangan.

Data pengukuran tekanan darah tinggi ini merupakan bagian dari survei global oleh perhimpunan hipertensi internasional yang dipublikasikan di jurnal The Lancet beberapa waktu lalu. Survei ini berhasil mengumpulkan 1,3 juta data dari seluruh dunia.

Leave a Comment