Tradisi Ngapem, Awali Peringatan Bertahtanya Sultan HB X

Yogyakarta – Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menggelar prosesi Tingalan Jumenengan Dalem. Prosesi ini adalah peringatan penobatan/ kenaikan tahta Sri Sultan Hemngku Buwpno X sebagai Raja di Keraton Mataram Yogyakarta.

Salah satu dari rangkaian peringatan adalah Ngapem yang dilaksanakan di Bangsal Sekar Kedhaton Keraton Yogyakarta, Sabtu (14/4/2018).

Ngapem adalah prosesi membuat kue apem yang dilakukan oleh Permasuri Raja yakni GKR Hemas dan putri-putrinya yaitu GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendoro dengan para abdi dalem perempuan.

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Condrokirono mengatakan apem yang dibuat ada dua macam yaitu apem besar disebut apem mustoko dan apem alit atau yang biasa. Apem tersebut akan nantinya untuk prosesi labuhan. Apem-apem akan ditata sepanjang badan Ngarso Dalem (Sri Sultan).

Tradisi ngapem di Keraton YogyakartaTradisi ngapem di Keraton Yogyakarta Foto: Edzan Raharjo/detikcom

“Apem mustoko untuk mustoko bahu, untuk badan memakai apem,”kata GKR Condrokirono di Keraton Yogyakarta.

Apem yang akan digunakan dipilih yang bagus dari bentuknya dan warnanya sehingga saat ditata bisa imbang. Apem yang dibuat jumlahnya mencapai 600an. Apem tersebut nantinya akan dilabuh sejumlah petilasan sakral bagi Keraton Yogyakarta. Seperti di pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Petilasan Dlepih Kayangan, Wonogiri.

“Untuk labuhan dipilih yang bagus-bagus, tebalnya sama, sehungga waktu ditata imbang,”katanya.

Tingalan Jumenengan Dalem adalah serangkaian upacara yang digelar berkaitan dengan peringatan penobatan/ kenaikan tahta Sri Sultan. Puncak acara dalam rangkaian peringatan ini bukan berupa resepsi atau perayaan tetapi selamatan (sugengan) yang digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat Yogyakarta.

Leave a Comment